29 Januari 2026 8:39 pm

10 Jajanan Lebaran Jadul: Nostalgia Manis yang Selalu Dicari Saat Idul Fitri

10 Jajanan Lebaran Jadul: Nostalgia Manis yang Selalu Dicari Saat Idul Fitri
Lebaran selalu identik dengan kebersamaan, hidangan manis, dan momen nostalgia yang hangat. 10 Jajanan Lebaran Jadul: Nostalgia Manis yang Selalu Dicari Saat Idul Fitri ini hadir untuk membawa kembali kenangan manis masa kecil lewat jajanan autentik yang mewarnai toples dan meja tamu.

Kue Semprit

Kue Semprit selalu hadir dengan bentuk manis dan motif klasik dari cetakan kue. Teksturnya lembut dan mudah lumer di mulut, biasanya dihiasi dengan cokelat atau selai di tengahnya. Selain rasanya yang memanjakan lidah, Semprit punya nilai nostalgia karena sering dibuat bersama keluarga menjelang Lebaran, membuat proses pembuatannya menjadi ritual yang hangat. Untuk toples Lebaran, Semprit tetap elegan karena bentuknya yang seragam dan tahan lama.

Kue Kacang Tanah

Kue kering kacang tanah memiliki aroma kacang sangrai yang khas dan rasa gurih-manis yang sederhana namun kuat. Dulu, kue ini sering dibuat manual di rumah dengan kacang lokal, sehingga rasa dan aromanya berbeda-beda dari satu rumah ke rumah lain. Selain kenikmatannya, Kue Kacang Tanah merepresentasikan kebersamaan keluarga, karena biasanya dibuat dalam jumlah banyak sebagai camilan untuk tamu yang datang.

Kue Bangkit (Sagu)

Kue Bangkit terkenal dengan teksturnya yang rapuh dan langsung “bangkit” lumer saat digigit. Terbuat dari sagu dan santan, kue ini selalu dikaitkan dengan Lebaran di rumah-rumah Melayu dan Sumatra. Insight menarik: kue ini dianggap simbol kesederhanaan, ketelitian, dan kesabaran, karena proses pembuatannya memerlukan tangan yang telaten agar bentuk dan tekstur sempurna.

Kembang Goyang

Kue renyah berbentuk bunga ini dibuat dari adonan tipis yang digoreng dengan cetakan khusus. Keunikan kue ini bukan hanya rasa, tapi juga proses pembuatannya yang atraktif—dulu sering menjadi tontonan anak-anak saat Lebaran. Kembang Goyang membawa nilai estetika dan simbol keindahan dalam kebersamaan keluarga.

Putri Salju

Balutan gula halus di permukaan kue Putri Salju memberikan rasa manis yang lembut dan aroma butter yang kuat. Kenapa disebut “jadul”? Karena balutan gula halus ini sering memakan waktu lama untuk ditaburkan secara merata, dan dulunya hanya dilakukan saat Lebaran. Putri Salju mengandung makna kemanisan dan keberuntungan, sekaligus menghadirkan pengalaman nostalgia bagi generasi 90-an.

Lidah Kucing

Kue tipis dan renyah ini punya rasa mentega yang kaya dan tekstur yang lentur namun renyah. Dulu Lidah Kucing disajikan dalam kaleng besar dan sering menjadi incaran anak-anak saat Lebaran. Insight: bentuknya yang panjang dan tipis sering dihubungkan dengan simbol panjang umur dan keberuntungan dalam tradisi Tionghoa-Indonesian Lebaran.

Kue Satu (Kue Gula Kacang Hijau)

Kue ini sederhana tapi khas, terbuat dari kacang hijau yang dihaluskan dicampur gula, dibentuk menjadi motif bunga atau karakter sederhana. Kenikmatannya bukan sekadar rasa, tetapi sensasi memakan sesuatu yang autentik dan berbeda dari kue modern. Kue Satu mengajarkan kita tentang nilai tradisi: kesederhanaan bisa menghadirkan kenangan manis yang tahan lama.

Biji Ketapang

Biji Ketapang adalah camilan goreng renyah berbahan dasar tepung dan gula, sering dicampur dengan margarin atau butter. Jajanan ini sangat populer di kalangan keluarga Betawi dan Jawa, dan biasanya dijadikan camilan utama untuk tamu Lebaran. Insight: Biji Ketapang menonjolkan nilai kepraktisan, karena bisa disimpan lama dan tetap renyah, menjadikannya parcel Lebaran yang ideal.

Akar Kelapa

Kue ini berbentuk unik seperti akar pohon dan memiliki tekstur renyah dengan rasa gurih manis. Dulu kue ini sering hanya dijumpai di rumah-rumah kampung dan jarang dijual, sehingga menjadi simbol eksklusivitas dan keaslian. Menyajikan Akar Kelapa di Lebaran kini memberi kesan vintage dan otentik, sekaligus menarik perhatian generasi muda yang penasaran dengan jajanan “rare” ini.

Rengginang

Rengginang adalah kerupuk ketan yang digoreng hingga mengembang dan renyah. Biasanya dijual di pasar tradisional, tetapi kini bisa ditemukan dalam kemasan toples modern. Insight: Rengginang bukan sekadar camilan, tetapi simbol kekayaan budaya kuliner lokal. Ia mengajarkan tentang kreativitas tradisional dan kesabaran dalam proses produksi, karena ketan harus dikukus, dibentuk, dikeringkan, lalu digoreng dengan sempurna.

-

About Writer


Asyraf Syafiq Adhika


Penulis konten seputar hampers dan gifting yang telah berpengalaman lebih dari 3 tahun mengkurasi hampers Natal, Imlek, dan Lebaran. Ia fokus pada pemilihan set makan keramik yang memadukan estetika, nilai budaya, dan makna personal dalam setiap hadiah.



Frequent Asked Question

©- Copyright 2024 PT Carramica Kreasi Indonesia